Selama ini kita berteori dengan pengertian sbb : Jika kita beramal dan sekalian pada saat yang sama atau kemudian sesudah itu kita mengharapkan imbalan amal kita (pamrih), amal kita itu hilang atau tidak bernilai lagi.
Pandangan ini terlalu drastis.
Untuk memahami persoalannya lebih mendalam dan logis, bersama ini diberi pengupasan terperinci tapi tetap terbatas. Batas ini dapat ditembus oleh mereka yang selama ini lebih banyak mendapat teori2 meliputi berbagai judul, sebab judul2 itu sebenarnya berincian lebih mendalam sebagai pecahan perincian terbatas yang tertera dibawah ini :
Perbuatan dosa (melanggar damai kedalam/ keluar) mempunyai akibat kedalam dan keluar. Akibat2 ini mempunyai bobot/ nilai, tergantung dari berbagai faktor.
Ukuran nilai/ bobot tak dapat diuraikan dalam angka oleh siapapun.
Ukuran hanya dalam bentuk rasa yang dialami (dihayati) oleh : Kita sendiri dan atau oleh lingkungan dan selanjutnya dapat disusul oleh akibat2 (teori2 yang sudah pernah diberikan).
Dosa akan mengundang karma dalam jangka pendek/ panjang. Jika kita berbuat amal (lihat teori amal) tercapai hal2 positif/ negatif : kedalam diri kita atau keluar.
Hal2 positip itu mempunyai nilai/ bobot yang juga tidak dapat diukur dengan angka oleh siapapun. Akan tetapi rasa/ akibat kedalam tubuh kita dan keluar terhadap lingkungan pasti ada.
Bisa saja kedalam tubuh nilai/ bobot kecil, tapi keluar bisa besar atau sebaliknya. Lagi pula ada kemungkinan bobot/ nilai keluar bisa negatif.
Jika timbul pamrih, kita katakan selama ini "Amal kita hilang nilainya".
Pendapat ini terlalu drastis.
Mari kita pelajari apa sebenarnya yang dimaksud dengan uraian itu :
Jika pamrih timbul, berarti dalam diri kita terwujud emosi yang ada kaitannya dengan eksistensi diri, harga diri atau hak.
Akibat kedalam daripada emosi ini kita sudah ketahui (lihat teorinya).
Sekarang harus dirasa bobot/ nilai emosi yang mengganggu keseimbangan (dosa).
Ada kemungkinan nilai/ bobot itu hanya kecil dibandingkan dengan nilai/ bobot amal yang diperbuat. Berarti nilai amal itu tidak terhapus begitu saja. Kita harus memandang nilai amal terpisah dari nilai negatif pamrih. Yang jelas ialah pamrih bisa berkembang menjadi kejiwaan menuju negatif jika kita tidak mawas diri.
|